Friday, September 2, 2011

Review Film Pendidikan: Tendangan dari Langit (2011)

Film adalah salah satu media pendidikan berbasis teknologi paling ampuh yang saat ini tersedia. Melalui film, berbagai pesan dan ilmu dengan cepat dan mudah bisa diserap oleh penontonnya. Film tertentu bahkan bisa membuat kecanduan bagi penontonnya, tidak hanya ditonton 1 kali, namun berulang kali. Film juga bisa membawa pada kesetiaan penonton atas topiknya, pada para pemerannya dan juga para pembuatnya. Film bermuatan pendidikan yang dikemas baik dan memenuhi selera penontonnya akan bisa menjadi salah satu alat bantu pendidikan yang sangat baik. Namun untuk film Indonesia, masih sangat sedikit film yang mampu memenuhi kriteria ini, (1) memiliki konten pendidikan yang kental serta (2) populer dan disukai oleh target penonton yang ingin dituju.

Film Pendidikan


Ditengah sedikitnya film yang mampu memenuhi kriteria "film pendidikan" tadi, maka "Tendangan dari Langit" menurut saya mampu mengisi kekosongan genre film jenis ini di negeri kita. Walau nuansa pendidikannya tetap belum terlalu kental, masih terlalu banyak adegan selipan bersifat humor, percintaan, dll, namun film ini layak tonton bagi generasi muda kita. Saat keluar dari bioskop, paling tidak para penonton pasti akan memiliki motivasi tinggi "berbuat sesuatu" untuk negeri ini, mengenal salah satu tempat paling menakjubkan di Indonesia yaitu Gunung Bromo serta mengenal seluk-beluk olahraga sepakbola yang sangat populer di dunia. Kemungkinan besar para penonton juga akan segera menjadi penggemar tim sepakbola lokal maupun nasional.

Hal Positif

Salah satu hal menarik adalah adanya penggambaran yang cukup gamblang mengenai kenyataan bahwa semua anak/orang memiliki kelebihan, minat dan bakat sendiri-sendiri. Bahwa pendidikan kita tidak hanya memberi "penghargaan tinggi" bagi jago Matematika, Bahasa Inggris dan Sains misalnya, namun juga bagi seorang siswa berbakat sepakbola. Bahwa anak/siswa yang memiliki bakat "non-kurikuler" pun harus didorong dan layak mendapatkan jalan kejayaannya sendiri. Hal positif yang menurut saya harus diketahui dan dijadikan filosofi mendidik bagi para kepala sekolah, pendidik, para orangtua dan tentu saja masyarakat kita.

Penggunaan ikon Irfan Bachdim juga jangan dilihat sebagai hal negatif. Kita perlu "pahlawan" untuk membangkitkan motivasi bangsa ini. Bahwa ikon penyemangat tersebut ternyata datang dari seorang Irfan yang ganteng, berwajah Indo, berbahasa Inggris, pemain bola dan artis, itu harus kita terima. Seperti David Beckham, saya pikir Irfan cocok untuk menjadi ikon pemberi motivasi berprestasi di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa penggemarnya luar biasa besar, lihat saja akun Twitter-nya yang memiliki follower hampir 1 juta. Dalam film ini penampilan Irfan praktis hanya sebagai figuran "penarik massa" belaka, namun tetap signifikan mewarnai jalan cerita film.

Lingkungan Gunung Bromo yang dipilih Hanung sang sutradara sebagai lokasi menurut saya adalah pilihan sempurna. Bromo mampu tampil spektakuler dan "megah" dalam film ini. Dataran bergunung dan berpasirnya, kelokan jalan menurun dan menanjaknya, saputan kabut, suasana temaramnya disaat senja, suasana dinginnya yang terasa hingga ke kursi penonton hingga setting rumah dan bangunannya yang sangat original, mampu menjadi salah satu kelebihan utama film ini. Suasana siang dan malam mampu ditampilkan prima. Salut dengan kru film yang pasti telah bekerja keras di lapangan dan studio untuk mengangkat alam asli Indonesia yang luar biasa ini.

Adegan Wahyu yang berlatih bola dengan ayahnya ditengah padang pasir Bromo sungguh menarik mata dan membawa kesan kemegahan Bromo. Debu beterbangan tertendang kaki kuda yang ditunggangi ayah Wahyu, percikan pasir yang terbang tertendang sepakan kaki Wahyu adalah pemandangan indah yang sangat puitis. Dengan pohon kering ditengah adegan plus bola lusuh yang sudah terkelupas menambah cantiknya scene ini. Inilah Indonesia yang sungguh indah, Indonesia yang kita cintai...

Bagi saya ini adalah sebenar-benarnya "pendidikan kebangsaan" dan pendidikan sosial bagi para generasi muda Indonesia. Bandingkan jika siswa hanya membaca 1-2 halaman tentang Gunung Bromo di buku sekolahnya atau disuruh ke TMII Keong Mas untuk menonton film "Indonesia Indah" yang hanya berupa film dokumenter membosankan. Film ini cukup sukses menampilkan suasana Bromo dan kota Malang secara asli dan indah, namun tetap apa adanya. Sayang sebagian besar penonton yang tidak mengerti tentang lokasi ini bengong dan bahkan ada penonton yang tidak tahu karena minimnya informasi baik lisan maupun tulisan dalam film yang menerangkan tentang lokasi ini.

Pemilihan setting lingkungan yang miskin juga adalah nilai plus tersendiri. Ditengah film dan sinetron yang didominasi setting rumah mewah dan mal-mal, maka film ini sungguh patut diacungi jempol karena berani menampilkan setting yang "murni" Indonesia. Anak-anak kita harus kenal dengan Indonesianya secara apa adanya agar timbul motivasi dan pengenalan akan akar budaya Indonesia, khususnya Jawa. Kru film berhasil membawa setting rumah yang sangat sederhana milik Wahyu di kaki Gunung Bromo keatas layar secara baik dan detil. Suasana rumah pak Kepala Sekolah yang diperankan Tarsan yang unik rumah Indonesia di kaki Gunung Bromo juga bisa tampil orisinil.

Banyak hal positif lain dalam film ini, seperti penggambaran kegigihan Wahyu mencapai cita-citanya, tata musik yang bagus, karakter pelatih Hasan dan ayah Wahyu yang tampil dengan dialog kehidupan yang kaya dan mengharukan, juga adegan lomba debat bahasa Inggris yang kental nuansa pendidikannya. Namun mungkin ada baiknya anda sendiri yang menonton film ini.

Patut dihargai juga keberanian Hanung memilih pemeran Wahyu yang bukan berwajah Indo tapi berwajah Jawa tulen. Ini penting untuk memberi nuansa Indonesia kedalam sinema kita. Demi menegaskan bahwa kita orang Indonesia, bukan barat. Ganteng dan cantik bukan mutlak harus "Indo".

Kesimpulan

Kesimpulan saya, film ini layak tonton bagi tua, muda dan tentu saja anak-anak kita. Tidak ada adegan "panas" namun ada beberapa adegan kekerasan rumah tangga yang cukup mengganggu. Juga ada beberapa adegan romans ala remaja yang mungkin kurang pas untuk anak-anak SD. Namun semuanya masih dalam skala minor. Nontonlah bersama keluarga dan mungkin teman-teman untuk me-recharge semangat anda sekaligus menumbuhkan benih-benih cinta tanah air di hati kita semua. Semoga semakin banyak film pendidikan yang akan terus bermunculan di khasanah perfilman Indonesia.

Lihat juga situs resmi film Tendangan dari Langit serta review bagus dari blog At The Movies. Ikut gabung di Facebook film ini disini.

No comments: